Home   //   Berita   //   Pemimpin Yang Ramah Itu Ansar Ahmad

Pemimpin Yang Ramah Itu Ansar Ahmad

Indonesia ternyata memiliki cukup banyak pemimpin di daerah yang dekat dengan rakyat, misalnya, Bupati Bintan, Provinsi Kepulauan Riau, Ansar Ahmad, meski belum setenar Wali Kota Solo Joko Widodo, tetapi dia juga dikenal keramahannya.

Kepedulian dan kesederhanaan Ansar Ahmad dalam memimpin Bintan membuatnya tidak hanya dikenal di Bintan, melainkan juga di seluruh Kepulauan Riau dan investor dari mancanegara khususnya yang membuka industri di Bintan Utara.

Pamornya secara nasional belum semengemuka Joko Widodo (Jokowi), mungkin lantaran media massa yang berpusat di Jakarta terbilang jarang mengangkat aktivitasnya.

Padahal hampir pada setiap waktu senggang Ansar menghabiskan waktu melayani rakyatnya.

Senyuman khas dalam menghadapi tamu membuatnya tambah dekat dengan masyarakat.

Mulai subuh hingga malam, Ansar tidak membatasi waktu dalam melayani tamu-tamunya.

“Mulai dari rumah, kantor hingga di kedai kopi saya selalu bersama warga masyarakat. Saya jadi mengerti apa yang dibutuhkan masyarakat sehingga itu dapat mempengaruhi strategi pelaksanaan pembangunan pada setiap tahun,” kata Ansar yang lahir di desa kecil di Kijang, Kecamatan Bintan Timur, Kabupaten Bintan pada 10 April 1964.

Di kalangan aparat Pemerintah Bintan, Ansar juga dikenal sebagai pemimpin yang ramah, dan tidak gemar marah-marah. Dia menganggap kesalahan yang dilakukan anak buahnya merupakan bagian dari proses perbaikan.

Kemarahan tidak akan membuahkan hasil yang lebih baik, melainkan justru mendapat kerugian ganda yaitu pekerjaan tidak semakin baik dan orang yang marah hatinya resah.

Tetapi kritikan tetap harus diberikan agar dapat memotivasi para pegawai untuk bekerja lebih giat, berhati-hati, jujur serta profesional.

“Tidak perlu dimarahi, tetapi diarahkan untuk perbaikan,” katanya.

Keramahan Ansar juga membuahkan hasil yang positif untuk pembangunan daerah.

Senyumannya semakin menyukseskan lobi yang dilakukan di tingkat pusat.

Beberapa pejabat di tingkat pusat membantu mengalokasikan anggaran dari pusat untuk pembangunan di Bintan. Setiap tahun pemerintah pusat menetapkan anggaran miliar rupiah untuk membangun Bintan.

“Pembangunan di Bintan tanpa bantuan dari pusat sulit dilaksanakan secara cepat. Alhamdulillah, bantuan terus mengalir hingga pembangunan infrastruktur jalan, jembatan dan dermaga semakin berkembang,” ucapnya.

Bupati Prorakyat

Ansar yang saat ini menjabat sebagai Ketua DPD Partai Golkar Kepulauan Riau tidak pernah bermimpi menjadi pemimpin di pemerintahan. Tetapi, ia ulet dan selalu optimistis dalam mengejar cita-citanya menjadi orang yang sukses.

Baginya, kesuksesan tanpa usaha dan kegigihan, mustahil bisa didapat. Hasil yang dicapai hari ini, adalah buah dan manivestasi dari perjuangan masa lalu. Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian.

“Saya lahir bukan dari keluarga yang kaya, melainkan serba kekurangan. Tetapi niat baik dan keseriusan dalam belajar dan berkarya, mengantarkan saya menjadi seorang pemimpin,” katanya.

Ayah Ansar, Abdul Ahad telah lama berpulang, meninggalkan anak-anaknya yang pada akhirnya Ansar bersaudara menjadi yatim. Ansar pun harus ikhlas dan rela berjuang menghidupi diri sendiri dan membantu ibunda tercinta.

Tidak ada yang pernah menyangka, Ansar yang dulunya adalah seorang bocah yang mencari nafkah sebagai pembersih bus akhirnya bisa menjadi seorang bupati.

Bahkan ibunya pun tidak pernah menduga putranya itu berhasil menjadi seorang bupati selama dua periode di Bintan.

“Kisah hidup saya selalu menarik dibicarakan, paling tidak bagi keluarga saya. Itu sebagai penyemangat orang-orang terdekat saya untuk selalu mengisi hidup dengan berbuat kebaikan,” katanya.

Ansar pun memuat kehidupan pribadinya dalam sebuah buku biografi.

Buku yang berjudul “Bupati Pro Rakyat-Pro Investasi” itu menceritakan sejarah perjalanan hidupnya hingga ia berhasil menjadi kepala daerah yang mampu mengembangkan investasi dan memajukan Kabupaten Bintan.

Buku itu diluncurkan di Taman Monumen dan Relief sejarah pertambangan bauksit Kijang. Mencapai puncak menjadi orang nomor satu di Kabupaten Bintan adalah sebuah perjalanan panjang dan berliku bagi seorang Ansar Ahmad.

“Sebuah perjalanan dalam suka dan duka, perjalanan penuh keringat dan air mata hingga mencapai puncak, setelah mendaki dan menapaki bukit-bukit terjal dan tajamnya batu karang,” ucapnya.

Bagi Ansar, hidup adalah perjuangan panjang untuk menjalani suratan takdir. Ketika saat ini dia tiba di puncak sebagai pemimpin dan menjadi orang nomor satu di Bintan, itu adalah suratan.

Dia menapakinya dengan sabar, ikhlas, tekun, penderitaan, tabah dan sebagai pemimpin yang beriman. Ansar yakin bahwa Yang Di Atas pasti menatapnya, memandunya ke jalan yang lurus.

Perjuangan yang telah dilaluinya telah menginspirasi banyak orang. Ansar, agaknya adalah simbol tokoh dan layak diteladani.

Dalam buku itu, dikisahkan, ketika masih duduk di bangku sekolah dasar (SD) pada tahun 1973-1974, untuk mencukupi biaya sekolahnya Ansar kecil ikut membantu meringankan biaya dengan menjadi tukang cuci bus Dinas Penerangan Kabupaten Riau Kepulauan yang setiap hari dilakukannya selepas shalat Magrib.

Hingga kini Ansar kerap terkenang pada sosok seorang sopir bus Dinas Penerangan, bernama Pak Ucup yang sangat baik padanya.

Menanjak usia remaja, Ansar dikenal sebagai sosok remaja yang religius. Bahkan kepiawaiannya dalam melantunkan ayat-ayat suci Al Quran mengantarkannya menjadi wakil Kecamatan Tanjungpinang Timur pada sebuah MTQ kala itu.

Memasuki bangku perkuliahan, Ansar memilih Fakultas Ekonomi Universitas Riau (Unri) untuk menimba ilmu pada tingkat yang lebih tinggi.

Ia menyewa sebuah rumah kecil yang dikelilingi kebun kangkung hingga tahun 1984.

“Untuk menambah biaya kuliah, saya menjadi guru ngaji dari rumah ke rumah,” katanya.

Jiwa kepemimpinan Ansar sudah terlihat sejak ia berstatus sebagai seorang mahasiswa. Bahkan eksistensinya di kampus, diperhitungkan.

Kendati Ansar menganggap kampus merupakan laboratorium untuk benar-benar menuntut ilmu, jiwa dan semangat berorganisasinya juga terlihat dengan jelas. Karena itulah, memasuki tahun kedua Ansar di kampus Unri terpilih menjadii ketua senat mahasiswa di fakultasnya yang merupakan jabatan yang sangat prestisius.

Kampus memberi bekal yang baik kepada saya,” ujarnya.

Pada tahun 1980 setelah menikah dengan Dewi Kumala Sari, Ansar masih memimpin Gabungan Koperasi Pegawai Negeri selama satu tahun. Setelah meraih gelar sarjana ekonomi, Ansar kembali ke Tanjungpinang dan bekerja sebagai pegawai Dispenda Kabupaten Riau Kepulauan (sekarang Kabupaten Bintan) di Tanjungpinang.

Karirnya terus melesat sejalan dengan semangat dan keramahannya dalam melaksanakan tugas, sehingga menjadi Kabag Pembangunan Kabupaten Riau Kepulauan, berikut kepala bagian perekonomian. Karirnya di beberapa organisasi pun melesat sehingga dia dikenal banyak tokoh politik.

Politik

Ansar pun mulai menapakkan kaki di dunia politik. Spekulasi yang matang membawa keberhasilan. Dalam sidang DPRD Kabupaten Kepri tanggal 23 Oktober tahun 2000, pasangan Huzrin Hood dan Ansar Ahmad terpilih sebagai Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Kepri periode 2000-2005.

Pada tanggal 2 Oktober 2003 Huzrin tersandung permasalahan hukum hingga diberhentikan oleh Mahkamah Agung. Setelah itu Ansar melanjutkan tugas Huzrin, selaku Pelaksana Tugas Bupati Kepri.

Pada pilkada 2005, ia terpilih menjadi bupati bersama dengan wakilnya, Mastur Taher. Di era kepemimpinannya, pada tahun 2006 nama Kabupaten Kepri berganti menjadi Kabupaten Bintan.

Selanjutnya Ansar kembali diamanahi masyarakat Bintan menjadi Bupati berpasangan dengan Khazalik periode 2010-2015.

Masyarakat Bintan kiranya, benar-benar mencintai sosok Ansar terbukti ia dengan menang telak pada Pemilihan Bupati (Pilbup) Bintan tahun 2010.

Lima tahun masa kepimpinan Ansar bersama Mastur Taher berhasil menekan angka kemiskinan dari 14,5 persen tahun 2005 menjadi 12,47 persen.

Dalam bidang pendidikan Ansar berhasil meningkatkan indeks pendidikan dari 80,16 persen tahun 2005 dan 82,76 persen pada tahun 2009, dan meningkatkan angka harapan hidup 69,33 pada tahun 2005 menjadi 69,69 tahun 2009.

Tekad Ansar Ahmad untuk membangun Kepulauan Riau telah bermula, jauh bertahun-tahun sebelumnya.

Sebelum menjadi Bupati Bintan, Ansar ingin membangun ibu kota Kabupaten Bintan yang baru. Dia memilih satu dari empat desa yang akan menjadi tapak lokasi pembangunan dengan membangun pusat Pemerintahan Bintan di Bintan Bunyu.

Pusat pemerintahan kabupaten itu kini sudah terbangun di tengah-tengah Pulau Bintan sehingga berkeadilan bagi seluruh warga di utara, barat, timur dan selatan daratan pulau yang juga di dalamnya terdapat Pemerintah Kota Tanjungpinang serta ibu kota Provinsi Kepulauan Riau.

Semula, ibu kota Kabupaten Bintan berada di Kijang pascapemekaran Kota Tanjungpinang dari Kabupaten Kepri tahun 2002.

Di samping pemindahan pusat pemerintahan eksekutif ke Bintan Bunyu, gedung DPRD Bintan yang semula berada di Kota Tanjungpinang dan satu kompleks dengan Kantor Pusat Pemerintah Provinsi Kepri, di era Ansar Ahmad kini bertempat di Bintan Bunyu.

Kehadiran pusat pemerintahan eksekutif dan legislatif di Bintan Bunyu merupakan kelengkapan penting bagi perjalanan untuk kemajuan Kabupaten Bintan.

Bukan itu saja, pembukaan Bintan Bunyu menjadi kota modern, lambat laun kelak berfungsi sebagai penyeimbang bagi pengembangan pesat sektor swasta Kawasan Industri Lobam dan Kawasan Wisata Terpadu di Lagoi, Bintan Utara.

Sumber : Antara

Facebook

Youtube

Bersama Membangun