Home   //   Berita   //   Kisah Suka Duka Ansar Kecil

Kisah Suka Duka Ansar Kecil

Ansarahmad.co – Ansar yang saat ini menjabat sebagai Ketua DPD Partai Golkar Kepulauan Riau tidak pernah bermimpi menjadi pemimpin di pemerintahan. Tetapi, ia ulet dan selalu optimistis dalam mengejar cita-citanya menjadi orang yang sukses.

Baginya, kesuksesan tanpa usaha dan kegigihan, mustahil bisa didapat. Hasil yang dicapai hari ini, adalah buah dan manivestasi dari perjuangan masa lalu. Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian.

“Saya lahir bukan dari keluarga yang kaya, melainkan serba kekurangan. Tetapi niat baik dan keseriusan dalam belajar dan berkarya, mengantarkan saya menjadi seorang pemimpin,” katanya.

Ayah Ansar, Abdul Ahad telah lama berpulang, meninggalkan anak-anaknya yang pada akhirnya Ansar bersaudara menjadi yatim. Ansar pun harus ikhlas dan rela berjuang menghidupi diri sendiri dan membantu ibunda tercinta.

Tidak ada yang pernah menyangka, Ansar yang dulunya adalah seorang bocah yang mencari nafkah sebagai pembersih bus akhirnya bisa menjadi seorang bupati.

Bahkan ibunya pun tidak pernah menduga putranya itu berhasil menjadi seorang bupati selama dua periode di Bintan.

“Kisah hidup saya selalu menarik dibicarakan, paling tidak bagi keluarga saya. Itu sebagai penyemangat orang-orang terdekat saya untuk selalu mengisi hidup dengan berbuat kebaikan,” katanya.

Ansar pun memuat kehidupan pribadinya dalam sebuah buku biografi.

Buku yang berjudul “Bupati Pro Rakyat-Pro Investasi” itu menceritakan sejarah perjalanan hidupnya hingga ia berhasil menjadi kepala daerah yang mampu mengembangkan investasi dan memajukan Kabupaten Bintan.

Buku itu diluncurkan di Taman Monumen dan Relief sejarah pertambangan bauksit Kijang. Mencapai puncak menjadi orang nomor satu di Kabupaten Bintan adalah sebuah perjalanan panjang dan berliku bagi seorang Ansar Ahmad.

“Sebuah perjalanan dalam suka dan duka, perjalanan penuh keringat dan air mata hingga mencapai puncak, setelah mendaki dan menapaki bukit-bukit terjal dan tajamnya batu karang,” ucapnya.

Bagi Ansar, hidup adalah perjuangan panjang untuk menjalani suratan takdir. Ketika saat ini dia tiba di puncak sebagai pemimpin dan menjadi orang nomor satu di Bintan, itu adalah suratan.

Dia menapakinya dengan sabar, ikhlas, tekun, penderitaan, tabah dan sebagai pemimpin yang beriman. Ansar yakin bahwa Yang Di Atas pasti menatapnya, memandunya ke jalan yang lurus.

Perjuangan yang telah dilaluinya telah menginspirasi banyak orang. Ansar, agaknya adalah simbol tokoh dan layak diteladani.

Dalam buku itu, dikisahkan, ketika masih duduk di bangku sekolah dasar (SD) pada tahun 1973-1974, untuk mencukupi biaya sekolahnya Ansar kecil ikut membantu meringankan biaya dengan menjadi tukang cuci bus Dinas Penerangan Kabupaten Riau Kepulauan yang setiap hari dilakukannya selepas shalat Magrib.

Hingga kini Ansar kerap terkenang pada sosok seorang sopir bus Dinas Penerangan, bernama Pak Ucup yang sangat baik padanya.

Menanjak usia remaja, Ansar dikenal sebagai sosok remaja yang religius. Bahkan kepiawaiannya dalam melantunkan ayat-ayat suci Al Quran mengantarkannya menjadi wakil Kecamatan Tanjungpinang Timur pada sebuah MTQ kala itu.

Memasuki bangku perkuliahan, Ansar memilih Fakultas Ekonomi Universitas Riau (Unri) untuk menimba ilmu pada tingkat yang lebih tinggi.

Ia menyewa sebuah rumah kecil yang dikelilingi kebun kangkung hingga tahun 1984.

“Untuk menambah biaya kuliah, saya menjadi guru ngaji dari rumah ke rumah,” katanya.

Jiwa kepemimpinan Ansar sudah terlihat sejak ia berstatus sebagai seorang mahasiswa. Bahkan eksistensinya di kampus, diperhitungkan.

Kendati Ansar menganggap kampus merupakan laboratorium untuk benar-benar menuntut ilmu, jiwa dan semangat berorganisasinya juga terlihat dengan jelas. Karena itulah, memasuki tahun kedua Ansar di kampus Unri terpilih menjadii ketua senat mahasiswa di fakultasnya yang merupakan jabatan yang sangat prestisius.

Kampus memberi bekal yang baik kepada saya,” ujarnya.

Pada tahun 1980 setelah menikah dengan Dewi Kumala Sari, Ansar masih memimpin Gabungan Koperasi Pegawai Negeri selama satu tahun. Setelah meraih gelar sarjana ekonomi, Ansar kembali ke Tanjungpinang dan bekerja sebagai pegawai Dispenda Kabupaten Riau Kepulauan (sekarang Kabupaten Bintan) di Tanjungpinang.

Karirnya terus melesat sejalan dengan semangat dan keramahannya dalam melaksanakan tugas, sehingga menjadi Kabag Pembangunan Kabupaten Riau Kepulauan, berikut kepala bagian perekonomian. Karirnya di beberapa organisasi pun melesat sehingga dia dikenal banyak tokoh politik.

Sumber : SAH untuk KEPRI.bloger

Facebook

Youtube

Bersama Membangun