Home   //   Berita   //   Menakar Kepemimpinan Transformatif Untuk Masa Depan Riau (HIJRAHNYA ANSAR AHMAD MENUJU RIAU 2)

Menakar Kepemimpinan Transformatif Untuk Masa Depan Riau (HIJRAHNYA ANSAR AHMAD MENUJU RIAU 2)

Riuh gemuruh perpolitikan di tanah melayu Riau semakin menghangat dengan berbagai manuver dari berbagai pihak berkepentinganmenjelang penetapan penerus “tahta warisan” Wakil Gubernur Riau. Manuver yang didesign sedemikian apiknya, hingga membuat linglung Gubernur Riau yang secara de facto dan de jure baru resmi menahkodai Riau sebagai land of malay, yang “sempat karam”akibat banyaknya kasus hukum serta lambannya realisasi pembangunan yang telah direncanakan.

Semua mahfum, Arsyad Juliandi Rahman harus terjebak menjadi sandera dalam konstelasi politik lokal dan nasional, dalam suasana penantian panjang menjelang dilantik oleh Presiden Republik Indonesia. Bahkan disinyalir pelantikan tersebut masih dalam bayang-bayang intrik politik, yang mengharuskan tahta wakil gubernur yang tak bertuan untuk diserahkan menjadi hak bagi pihak tertentu.

Posisi wakil gubernur yang sangat stategis sekaligus prestisiustersebut telah membangkitkan libidopolitik para tokoh potensial untuk turut andil dalam memperebutkannya. Manuver atraktif politik seolah menjadi pagelaran “drama kolosal” bagi masyarakat Riau, dengan alur yang disetting oleh produser berbakat,memberikan suguhan yang mengaduk perasaan, fikiran yang pada beberapa fragmennya mampu membuat banyak kalangan secara refleksbersikap reaktif bahkan diikuti dengan sumpah serapahnya, seolah tak sabar menantikan akhir kisah dari drama yang sedang bergulir. Perkara ini akhirnya terus mengalir hingga menjadi bahasan apik di berbagai situasi, kondisi serta lokasi, tidak hanya menjadi bahasan di kantor pemerintahan, tetapi terus memantul hingga ke majelis-majelis pinggiran sembari menikmati kudapan, menyeruput secangkir minuman dan menyemburkan sekepulan asap dari candu yang dihisap.

Setelah melewati banyak momentum politik nasional, riuhnya terasa semakin dinamis dan semarak dengan munculnya sosok kharismatik yang sejatinya terlahir dari bumi melayu serumpun. Sederhada dalam penampilan, santun dalam prilaku, teduh dalam tutur bahasa, visioner dalam fikiran, luwes dan cekatan dalam tindakan semakin melengkapi kapasitasnya sebagai sosok pemimpin harapan yang akan memberikan banyak nilai manfaat serta perubahan bagi hidup dan kehidupan masyarakat yang dipimpinnya.

Ansar Ahmad demikianlah orang tua telah manabalkan nama bagi anak jati melayu yang terlahir di kawasan pesisir ini. Menyebut namanya yang teduh memberikan energi dan semangat bagi siapapun yang pernah bersentuhan secara langsung dalam hidup dan kehidupan dengan sosok ini.

ANSAR AHMAD DALAM PENAKLUKKAN BADAI

Munculnya sosok Ansar Ahmad pada ruang dan waktu yang tak pernah diprediksi sebelumnya ini, tentunya menimbulkan riak, gelombang bahkan badai politik dalam tatanan politik Riau. Sesuatu yang lumrah, akan tetapi harus tetap disikapi secara arif dan bijaksana.Para tokoh masyarakat ataupun tokoh politik di Riau sejatinya tak perlu kalap apatah lagi sampai bersumpah serapah dalam menyambut hadirnya sosok transformatif ini.

Justru hadirnya sosok Ansar Ahmad dalam panggung politik Riau, harus menjadi titik balik bagi semua pihak untuk melakukan kontemplasi serta introspeksi kesadaran politik secara massal. Kesadaran akan tanggungjawab dalam mempersiapkan kader pemimpin yang siap melakukan transformasi bagi daerah bahkan bisa turut berperan dalam kancah nasional. Harus diakui, proses saling membesarkan yang tersendat bahkan minim design, ditambah tindakan saling “sikut menyikut” dan “becekau” yang kurang produktif antara sesama tokoh dan pemimpin lokal memiliki konsekuensi terhadap lemahnya Riau dalam posisi tawar dalam panggung politik nasional.

Kiranya situasi ini tak perlu menjadi polemik, karena sikap reaktif-destruktif justru akan mereduksi nilai luhur serta nasionalisme yang selama ini melekat pada diri setiap warga negara. Kajian tentang otonomi daerah hendaknya diterjemahkan secara bijaksana, mengokohkan semangat nasionalisme serta mereduksi kepicikan primordialisme. Tentu menjadi tanggungjawab bagi seluruh elemen masyarakat berperan aktif dalam menyiapkan figur-figur transformatif untuk menjaga marwah negeri serta merawat kemuliaan tahta yang diwarisan.

Begitulah dinamisnya politik, tak semata tersekat pada “mindset” teritorial dan primordial. Munculnya sosok Ansar Ahmad yang menantang badai bergerak hijrah dari Wilayah Kepulauan (yang sejatinya dulunya merupakan integrasi dari wilayah Riau) ke Wilayah Daratan tentulah memiliki banyak makna bagi masa depan Riau. Semua tentu melalui kajian yang panjang dan mendalam, baik secara etis/kepatutan, kepantasan serta kelayakan. Partai GOLKAR pun tentu tak gegabah dalam memilih langkah, sumbang saran dari banyak pihak yang berpengaruh di Riau pasti lah sudah dihimpun sebelum menentukan sikap politik. Sebagai renungan: “hijrahnya pemimpin kharismatik biasanya menjadi sinyal kuat bagi perubahan suatu negeri”.

MENAKAR PELUANG ANSAR AHMAD DAN AHMAD SYAH HAROFFIE

Khabar angin, atas surat yang telah dikirimkan oleh Gubernur Riau Arsyad Juliandi Rahman yang menominasikan Ansar Ahmad dan Ahmad Syah Haroffie hendaknya menjadi energi positif bagi masa depan masyarakat Riau. Kedua sosok tersebut merupakan figuryang memiliki track record pengabdian yang apabila didedah secara head to head memiliki kapasitas yang sangat berimbang. Bahkan tak menutup kemungkinan pada masa yang akan datang justru keduanya layak didaulat untuk menjadi pasangan yang pantas dalam kontestasi pesta demokrasi di bumi lancang kuning ini.

Menurut Aristoteles dalam pandangan etika keutamaan (virtue ethics) secara alamiah masyarakat menantikan sosok pemimpin yang mampu mengembangkan suatu disposisi, sikap dan kecenderungan moral melalui kebiasaan yang baik, sehingga prilaku dan perbuatannya selalu bermoral. Pemimpin tersebut bukan orang yang sekedar melakukan sesuatu yang adil (doing something that is just), melainkan orang yang adil sepanjang hidupnya (being a just person), bukan sekedar orang yang yang melakukan tindakan yang baik, melainkan orang yang baik.

Ansar Ahmad merupakan sosok bersahaja yang telah merasakan nikmat dari pahit getir kehidupan di masa lalu, yang telah menempa kematangannya dalam berbagai situasi dan kondisi, sehingga senantiasa mampu menyuguhkan solusi efektif untuk kemaslahatan masyarakat dan lingkungan kehidupan dalam pengabdiannya. Sesuatu yang semakin langka dimiliki oleh kebanyakan pemimpin pada beberapa dekade terakhir perjalanan bangsa Indonesia dalam mengejawantahkan demokrasi sebagai sistem berkebangsaan. Realitas kekinian menunjukkan bahwa produk demokrasi akhir-akhir ini telah melahirkan terlalu banyak pemimpin instant yang muncul dalam kondisi terpaksa dan cenderung dipaksakan. Sehingga masyarakat pun hampir kehilangan momentum untuk mampu menempatkan figur pemimpin harapan yang memiliki empati terhadap realitas kehidupan masyarakat.

Perjalanan politik dan pengabdian telah menjadi catatan yang tidak bisa dinafikkan dalam lembaran sejarah kepemipinan masyarakat, bukan semata bagi rumpun masyarakat melayu sebagai “local citizen” akan tetapi mampu merangkul berbagai suku serta etnis masyarakat dalam wilayah kepemimpinannya. Pada ranah politik, sosok ini sangat piawai dalam kancah perpolitikan lokal maupun nasional ini dibuktikan dengan peran serta dalam memimpin partai politik besar dan turut berkontribusi positif dalam dinamika politik kepartaian. Pada wilayah politik lokal sosok ini pernah menjadi Wakil Bupati Kepulauan Riau (2001-2003) ketika masih terintegrsi dalam Propinsi Riau, selanjutnya pernah menjabat sebagai Pelaksana tugas Bupati Kepulauan Riau (2003-2004), karier cemerlang berikutnya pernah menahkodai Kabupaten Bintan selama 2 periode (2005-2010, 2010-2015).

Pada ranah ekonomi, selama proses pengabdiaannya telah mampu menekan angka kemiskinan serta mendongkrak laju pertumbuhan ekonomi masyarakat, dengan menghadirkan investasi pembangunan dengan pola integrasi serta membuka akses ekonomi produktif bagi masyarakat. Hal ini semakin terlihat memukau dengan tumbuhnya kawasan ekonomi khusus berbasis wisata alami yang telah dipoles secara modern, yang telah mampu menarik minat wisatawan domestik dan internasional.

Pada ranah sosial, sosok ini terkenal kharismatik, berwibawa, santun serta supel dalam pergaulan sebagai pribadi atau pun sebagai pimpinan secara struktural dalam pemerintahan. Kemampuan untuk memberikan arahan, motivasi serta pengayoman semakin mengukuhkan ikatan secara emosional antara pribadinya dengan masyarakat serta perangkat pemerintahan yang dipimpinnya.

Pada ranah lingkungan yang sensitif, sosok ini justru mampu melakukan terobosan dengan implementasi pola pembangunan berkelanjutan (suistainable development), dimana pembangunan infrastruktur disinergikan dengan pengelolaan lingkungan, sehingga tidak terjadi “gap” antara kemajuan pembangunan dengan kelestarian alam.

Terlebih dari itu, secara pribadi sosok ini merupakan pribadi yang beradab dalam budaya serta religius dalam beraqidah, sejatinya sosok serupa inilah yang merupakan cerminan dari pemimpin masyarakat madani.

Ahmad Syah Haroffietentunya memiliki peluang yang serupa dengan Ansar Ahmad untuk dapat tampil dalam melakukan perubahan terhadap kondisi masyarakat di Riau. Sosok ini pun merupakan pribadi yang bersahaja, memiliki kematangan dalam karier sebagai birokrat, bahkan sejatinya telah mencapai fase paripurna dalam proses pengabdian secara struktural birokrasi.

Pada ranah politik pun selama ini Ahmad Syah Haroffie cukup piawai dalam menempatkan peran, sehingga tak heran jikalau beliau mampu beradaptasi dan selalu diakomodir oleh setiap rezim berkuasa. Terakhir sempat diberikan amanah sebagai Pelaksana tugas Bupati Kabupaten Bengkalis Riau (2015), karena masa waktu pengabdian yang terbatas gebrakan pada ranah ekonomi dan lingkungan yang sensitif tidaklah etis untuk dibahas menjadi parameter dalam pengbdian beliau.

Namun pada ranah sosial sosok ini dikenal sebagai figur yang mampu berbaur bersama masyarakat secara langsung serta memiliki relasi sosial yang cukup intim dengan berbagai elemen masyarakat Riau, sehingga tak ada yang menyangsikan figur ini ketika masuk dalam nominasi yang telah direkomendasi oleh Gubernur Riau menjadi salah seorang yang dinilai layak untuk berperan lebih dalam kehidupan masyarakat Riau secara keseluruhan.

Siapapun nanti yang akan mengemban amanah tentu memiliki niat dan ikhtiar terbaik, hanya saja dalam proses implementasinya dilakukan dengan cara yang variatif pada ruang dan waktu yang dinamis serta terukur. Tersebab rekomendasi menjadi domain partai politik pemenang pemilu yang telah diatur secara jelas dalam undang-undang, maka sebagai masyarakat awam di luar partai politik tentu tak terlalu diperlukan untuk hadir membahas internal kepartaian.

Kondisinya akan menjadi lebih semakin menarik apabila dilakukan kajian akademik secara komprehensif terkait capaian prestasi pengabdian yang telah dilakukan oleh kedua figur yang sudah diusulkan tersebut, baik dalam struktur pemerintahan atau pun sebagai bagian dari masyarakat secara keseluruhan. Kalaulah masih banyak yang perlu dibenahi atau ditingkatkan, tentu kita sebagai bagian dari masyarakat punya kewajiban untuk memberikan sumbang saran. Kalau lah sudah dicapai banyak kemajuan serta perbaikan, apatah lagi manfaatnya sudah mampu mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat, tentu kita pun harus memberikan apresiasi yang tulus. Masyarakat membutuhkan figur bukan semata simbol. Pemimpin yang hadir dengan ketulusan pengabdian, yang sederhana dalam penampilan, santun dalam prilaku, teduh dalam tutur bahasa, visioner dalam fikiran, luwes dan cekatan dalam tindakan, empati dengan realitas kehidupan masyarakatnya. Tentu ini menjadi semakin penting untuk difikirkan oleh semua pihak untuk menghadirkan Riau yang semakin gemilang, cemerlang dan terbilang.

MENAKAR KOMITMEN KADER PARTAI

Kendati posisi wakil gubernur merupakan wewenang dari partai politik, namun kiranya semua pihak berkepentingan dalam konteks kepartaian, hendaknya juga membuka ruang yang seluas-luasnya bagi masyarakat awam untuk sedikit memberikan pandangan secara objektif dan proporsional. Lebih dari itu dalam bahasan yang menyangkut hajat hidup masyarakat luas hendaknya tak menafikkan realitas kekinian yang harus segera ditelaah secara arif dan bijaksana oleh masyarakat Riau secara keseluruhan. Kendati pun tetap dipandang dari persfektif kepartaian, tentu kita juga perlu membuka diri, mencari pembanding dalam kasus serupa, sehingga tidak dianggap phobia. Setelahnya silahkan ditakar pada konteks kemaslahatan masyarakat secara keseluruhan.

Kajian ini menjadi penting karena melihat kegalauan yang mencengkeram fikiran serta perasaan kader partai politik, tersebab dihadapkan pada “mindset teritorial” dan “komitmen” sebagai kader partai. Untuk tidak mengkerdilkan salah satu figur dalam konteks yang dimaksudkan maka perlu dibuka kembali lembaran sejarah demokrasi Indonesia melalui sistem pemilihan umum (bukan hanya mengisi kursi kosong).Ternyata cukup banyak daerah yang dipimpin oleh kader partai yang bermigrasi dari teritorial berbeda. Contoh kasus, tampilnya Dr. Ridwan Mukti, M.H sebagai figur kader Golkar dari Kabupaten Musi Rawas Sumatera Selatan yang kemudian bermigrasi ke panggung politik Propinsi Bengkulu berpasangan dengan birokrat dr.drh. Rohidin Mersyah, MM., akhirnya dengan ikhtiar maksimal mampu menaklukkan incumbent sebagai rival dari partai politik lainnya.

Ini bukan berarti bahwa telah terjadi kekurangan kader dalam struktural partai pada suatu wilayah, tapi lebih dari takaran kajian terhadap realitas dan peluang bagi partai untuk bisa melakukan inovasi serta transformasi dalam konteks kepemimpinan. Kalau terjadi penafikan secara sadar atas realitas tersebut, maka partai politik harus siap untuk ditinggalkan oleh konstituennya, karena dinilai tidak peka terhadap arus perubahan yang diharapkan oleh masyarakat.

Ini terkait kecakapan dan keluwesan dalam memainkan peran. Dalam dinamika politik, sejatinya partai politik pasti akan menakar figur yang lebih fresh dan piawai dalam menciptakan peluang untuk ditampilkan sebagai “jagoan politik”. Ini karena ada target yang hendak diwujudkan, partai yang mengusulkan tentu memiliki variabel-variabel rasional dalam menentukan sikap. Sehingga apabila kader internal partai meragukan hasil kajian dan analisa dari partai yang notabene tempat mengurai ikhtiar politik, tentu akan menjadi aneh bagi masyarakat awam.

Perlu menjadi evaluasi bagi para tokoh politik bahwa suara rakyat hendaknya tak sebatas jargon, karena pada realitas kekinian semakin rakyat bersuara lirih dalam rintihan, semakin tak ada kepedulian dari sebagian oknum yang telah diberi kepercayaan dalam mengemban amanah.

DETIK-DETIK YANG MENENTUKAN

Beginilah realitas politik, partai pengusung memiliki hak penuh untuk menentukan figur yang dinilai lebih patut dan dinilai pantas untuk meneruskan amanah masyarakat dalam persfektif kepartaian. Pada ranah ini, partai politik tentu memiliki variabel terukur dalam menentukan sikap dan pilihan politik. Kondisi ini menjadi test case bagi Ansar Ahmad maupunAhmad Syah Haroffie dalam menunjukkan keuletan serta keluwesan dalam merebut pengaruh dan membangun dukungan maksimal untuk mencapai tahta yang telah di wariskan. Masing-masing figur memiliki potensi positif untuk diunggulkan, serta memiliki peluang yang sama untuk dipersilahkan mengabdi pada ranah yang lain, semua itu fair. Keduanya berhak untuk menantikan mukjizat (the invisible hand). Apapun kondisinya, kita hendaknya tak terjebak hanya pada persoalan mendudukkan sosok, tapi lebih jauh melihat masa depan Riau dibawah kepemimpinan transformatif, yang amanah, sidiq, tabligh serta fatanah.

Hadirnya sosok Ansar Ahmad sebagai sparing partner Ahmad Syah Haroffie hendaknya menjadi energi positif bagi masa depan masyarakat Riau.Harapan semua pihak tentunya, kedepan Riau sebagai negeri yang makmur akan benar-benar mampu memakmurkan dan mensejahterakan masyarakatnya. Pengalaman masa lalu hendaknya dijadikan cerminan dalam proses pembelajaran hidup, belajar yang tiada henti, kapanpun, dimanapun, dengan siapapun dan apapun kondisinya, karena menurut Paulo Freire bahwa semua tempat adalah sekolah dan semua orang adalah guru, maka ambillah makna dari setiap pembelajaran dalam perjalanan hidup. Sekarang tinggal menantikan masa dimana waktu akan menunjukkan bahwa pewaris tahta negeri melayu ini akan benar-benar memiliki komitmen untuk merealisasikan amanah yang dititipkan oleh masyarakat.

Catatan akhir untuk menuntaskan tulisan sederhana ini, mengutip tulisan drh. Chaidir, MM dalam tulisan berjudul =Gong Xi Fa Choi= : “Daripade becekau tak tentu pasal, kan lebih baek besatu-padu membangun negeri”. Sesama anak bangsa dari rumpun yang juga tak berbeda, harus melihat Riau dalam persfektif masa depan. Siapapun yang dipilih dan ditetapkan sebagai pemimpin di bumi melayu ini yang penting amanah serta mampu membawa perbaikan bagi kehidupan masyarakat secara keseluruhan.

Pekanbaru, 10 Juni 2016
Handiro Efriawan, M.Si
Founder Human Management Institute

Facebook

Youtube

Bersama Membangun