Home   //   Sapa Ansar Ahmad   //   Profil

Profil

Pria yang akrab disapa Ansar ini lahir di sebuah kamoung kecil di Kijang. Tepat tangal 10 April, 50 tahun silam. Terlahir dari buah cinta Ayahanda tercinta Abdul Ahad dan Ibunda tercinta Ijah. Ansar adalah anak ke-4 dari 5 bersaudara.

Ansar bukanlah anak yang terlahir dari keluarga yang berkecukupan. Ketika usianya menginjak 2 tahun, ia ditinggal pergi Ayahnda tercinta untuk selamanya. Tinggalah Ansar kecil bersama kakak dan asiknya untuk bertahan hidup dengan Ibundanya.

Dengan kondisi seorang anak yatim, Ansar harus berjuang keras untuk menghidupi hari-harinya terutama untuk sekolah dan membantu orangtuanya. Masa kecil Ansar tak seriang seperti anak-anak sebayanya. Sebagai anak lelaki pertama, ada tanggungjawab yang harus diemban oleh Ansar setelah kepergian sang ayah.

Ijah, sang ibu yang berprofesi serabutan harus bertungkus lumus menafkahi kelima anaknya. Dari berjualan apa saja yang bisa menghasilkan uang yang halal telah dilakoni oleh Ijah. Ia pernah menjadi tukang cuci pakaian, berjualan sayur dari subuh hingga siang walaupun harus menempuh perjalanan berkilo-kilo meter. Perjalanan hidup Ijah membesarkan anak-anaknya, adalah memori pahit manis yang tak dapat dilupakan oleh seorang Bupati Bintan, Ansar Ahmad.

Sejak duduk dibangku Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP), Ansar melakoni berbagai macam pekerjaan. Ia pernah menjadi tukang bangunan, mencuci bus, dan bahkan menjadi guru mengaji keliling.

Masjid Al Ikhlas bt.3 Tanjungpinang, menjadi saksi bisu perjalanan hidup Ansar menimba ilmu agama. Disanalah ia belajar ilmu tajwid Al-Qur’an bersama teman-teman seusianya. Kepiawaiannya dalam melantunkan ayat suci Al Quran telah mengantarkannya untuk ikut dalam Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) tingkat kecamatan mewakili Tanjungpinang Timur. Ansar merupakan pibadi yang religius bahkan menjadi teladan bagi rekan-rekan sebayanya.

Sikapnya yang bersahabat, membuat Ansar semakin disenangi oleh kawan-kawannya. Lingkungan pergaulan baik di Tanjungpinang maupun Kijang masa lalu telah membentuk jiwa sosialnya yang sangat tinggi dan peka terhadap penderitaan sesama.

Setelah menamatkan sekolah di SMP Negeri 4 Tanjungpinang, Ansar melanjutkan pendidikan di SMA Negeri 2 Tanjungpinang. Aktifitasnya tidak ada yang berubah signifikan. Masjid masih menjadi tempat favorit baginya untuk menghabiskan masa-masa senggangnya. Kesehariannya inilah yang menjadikan pribadinya semakin matang.

Biasanya setelah pulang dari sekolah, Ansar selalu bergegas membantu sang ibu. Terutama mengumpul kayu bakar untuk keperluan dapur, bahkan mencari pekerjaan yang biasanya dikerjakan oleh orang dewasa seperti menjadi kuli bangunan.

Bermodal uang 90.000, yang diperolehnya melalu jualan uah-buahan, Ansar menguatkan dirinya untuk melanjutkan kuliah setelah menamatkan SMA. Universitas Riau, Pekanbaru menjadi pilihannya untuk meniti dunia pendidikan yang lebih tinggi. Kehidupan ibu kota provinsi, yang kala itu masih menjadi provinsi induk, memaksa Ansar untuk memutar otaknya.

Pribadi yang supel dan mudah bergaul menjadikan Ansar mudah diterima dilingkungan barunya. Untuk menghidupi keseharinanya dan membayar uang kuliah, Ansar tetap bekerja serabutan dan mengajar ngaji. Keberuntungan akhirnya berpihak ke Ansar setelah ia menerima bantuan beasiswa yang berati beban kebutuhannya semakin kurang.

Ansar memiliki jiwa entreprenureship, sehingga ia dipercaya sebagai pengelola Koperasi Mahasiswa UNRI pada tahun 1984. Semenjak, koperasi di kelola oleh Ansar, perkembangan koperasi berkembang pesat, dan tentunya dapat membantu keuangan Ansar. Beasiswa yang ia peroleh, tidak semaunya ia gunakan untuk kebutuhan perkuliahan atau kebutuhan pribadinya, beasiswa yang ia peroleh juga ia kirimkan kepada ibundanya di Tanjungpinang.

Facebook

Youtube

Bersama Membangun